Wendi Ibnu Al Farizi (23 tahun) hilang selama 3 hari di Gunung Manglayang, Kampung Ciloa, Desa Sindangsari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Sumedang.
Ia mulai mendaki pada Minggu (16/2), dilaporkan hilang, lalu berhasil membawa dirinya ke pos pada Rabu (19/2).
Kepada Wartawan yang menemuinya di rumahnya di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Kamis (20/2), Wendi menceritakan kisahnya.
Kegiatan solo hiking-nya semula berjalan normal belaka. Seperti biasa, dia meregistrasi diri di pos jalur pendakian Baru Beureum, hingga mendirikan tenda di titik antara Puncak Bayangan dan Puncak Utama Gunung Manglayang.
Cerita dimulai saat ia tidur dalam tenda, ia merasakan tendanya terdorong hingga masuk ke jurang, entah karena apa.
“Di pertengahan Puncak Bayangan sama Puncak Utama, di situ. Nge-camp-lah di situ,” kata Wendi.
“Lalu, singkatnya saya tidur. Bangun-bangun, sudah di jurang. Tenda sudah hancur semua. Patok-patok tenda sudah patah semua,” ujar Wendi.
Wendi pun menjawab tak paham apa penyebab jatuh tenda, termasuk saat ditanya apakah waktu kejadian ada angin bertiup hebat.
“Pure tidur. Enggak terasa juga pas jatuhnya. Itu pas Senin pagi (17/2),” ujarnya.
Saat terjaga di pagi itu, dia bilang kontur area sekitar curam sekali. Tenda Wendi tertahan oleh pohon, sehingga tak lebih dalam terperosok.
Sempat terjebak di dalam tenda rusak itu, Wendi lalu keluar dan melihat sekitar: Tak tahu sedang berada di mana, ia tak mengenali lagi.
Ini bukan kali pertama Wendi naik Gunung Manglayang. Ia pertama kali mendaki Gunung Manglayang pada 2014.
Sadar berada dalam kondisi tersebut, Wendi mencari rute untuk kembali ke jalur pendakian utama. Itu dia lakukan dengan berjalan sejauh 50 meter ke utara, selatan, timur, dan barat dari titik semula.
Sayangnya bekal pengetahuan yang coba ia praktikkan itu, belum menuntunnya ke titik terang. Tapi Wendi tak menyerah.
Lantaran tak kunjung menemukan jalur utama pendakian, Wendi memutuskan membuat bivak atau tenda darurat ala kadarnya di tanah yang agak landai, sekitar 20 meter dari titik awal dia terjatuh.
Dia menceritakan, bivak itu dirancang dengan memanfaatkan tenda yang telah rusak. Ini masih di hari Senin (17/2).
“Iya, jadi saya memutuskan untuk stay di bivak dengan harapan menunggu Tim SAR. Tapi terkadang saya jalan lagi, mencari jalur. Tapi enggak jauh dari bivak itu,” ungkapnya.
Saban 10 menit sekali, Wendi meniup peluit atau berteriak sebagai tanda keberadaannya yang butuh pertolongan.
Selama tiga hari itu, Wendi bertahan dengan memakan snack yang ia bawa—yang untungnya masih ada. Bagaimana dengan minum?
“Saya pakai air hujan. Jadi air kan sudah habis, saya bikin semacam corong dengan daun. Air hujan masuk ke botol lewat itu. Saya minum air hujan,” ujarnya.



















