Sumedang, WartaUpdate.id – Sabtu, 9 Mei 2026 16:38 WIB Di tengah upaya penguatan identitas kebangsaan di era digital, Komandan Tim Ekspedisi Siliwangi Cinta Alam Indonesia, Martika Edison, meluncurkan misi patriotik spektakuler. Membawa Merah Putih raksasa ke puncak-puncak strategis Nusantara, aksinya ini bukan sekadar mendaki gunung, melainkan upaya membangun kembali semangat nasionalisme generasi muda melalui simbol negara yang dibentangkan di alam bebas.
Martika Edison, yang akrab disapa “Putra Siliwangi”, memimpin rangkaian ekspedisi pengibaran bendera Merah Putih berukuran masif di berbagai gunung dan kawasan nasional. Gerakan ini merupakan inisiatif patriotik yang menjadi bagian integral dari peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pada peringatan HUT ke-77 RI, timnya berhasil membentangkan bendera sepanjang 77 meter di dua gunung ikonis: Gunung Agung di Bali dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Prestasi ini berlanjut pada HUT ke-78 RI dengan pengibaran bendera 78 meter di Gunung Sorik Marapi, Sumatera Utara, dan Gunung Kerinci, Jambi. Inisiatif serupa kembali dilakukan pada HUT ke-79 RI di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) Kalimantan Timur dengan bendera 79 meter, serta pada HUT ke-80 RI ke Nabire, Papua Tengah, dan Gunung Gamalama, Ternate, dengan bendera 80 meter.
Lebih dari sekadar ritual seremonial, Martika memandang ekspedisi ini sebagai perjalanan spiritual kebangsaan. Inspirasinya berasal dari keberanian rakyat Sunda dalam peristiwa Bandung Lautan Api. “Semangat itu harus terus menyala. Dari Bandung untuk Indonesia,” tegas Martika, menggemakan api perjuangan masa lalu.
Khusus untuk perayaan HUT ke-79 RI di IKN, kegiatan dilaksanakan di dua lokasi penting: Titik Nol Nusantara pada 17 Agustus 2024 dan Taman Bukit Soeharto dua hari berselang. Namun, agenda ini hanyalah pemanasan dari misi yang jauh lebih ambisius: membawa Merah Putih ke 80 gunung di seluruh Indonesia hingga tahun 2026.
Dalam acara pelepasan resmi ekspedisi oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih di Lapangan Monumen Darongdong, Sumedang, Martika menegaskan makna bendera. “Bendera Merah Putih itu bukan hanya kain. Ia napas bangsa,” ujarnya, menekankan kedalaman simbolis tersebut.

Agenda monumental selanjutnya dijadwalkan pada 17 Agustus 2025, di mana tim akan memulai perjalanan nasional dari Monumen Kujang Papasangan Gunung Bohong, Kodam III/Siliwangi. Ekspedisi ini akan merentang hingga Juli 2026, menargetkan 80 gunung di seluruh penjuru negeri.
Gerakan ini mendapat dukungan luas, mulai dari unsur pemerintah, komunitas pecinta alam, organisasi kepemudaan, hingga jaringan media dan relawan kebangsaan. Dukungan ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya merawat semangat persatuan dan kesatuan.
Di mata tim dan para pendaki muda, Martika dikenal sebagai pemimpin yang turun langsung ke lapangan. Ia tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga ikut mendaki, berkemah, dan berbagi suka duka dalam setiap perjalanan. Pengalamannya ini tercermin dari ucapannya, “Kalau kita mencintai alam, maka alam akan mengajarkan keteguhan.” Selain aktif dalam ekspedisi, Martika juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Siliwanginews dan Ketua Sekolah Alam Budaya Gunung Tangkubanparahu.
Bagi Martika Edison, ekspedisi Merah Putih bukan tentang menaklukkan puncak tertinggi, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang patut dijaga. Pertanyaannya yang menggugah, “Kalau tidak kita yang menjaga Indonesia, siapa lagi?”, menjadi penanda urgency upaya pelestarian nilai-nilai kebangsaan.
Melalui perjalanan lintas geografis yang membentang dari Jawa Barat hingga ke ujung timur Indonesia seperti Papua dan Maluku Utara, Martika Edison berupaya menyalakan kembali api nasionalisme. Ia menawarkan cara yang sederhana namun sarat makna, dekat dengan alam dan relevan bagi generasi muda, yaitu melalui pengorbanan dan dedikasi.
( Martika /Red )
















